Masjid Laweyan menjadi titik awal peluncuran program Bebas Buta Al-Qur’an yang digagas LAZ SOLOPEDULI dalam rangka Milad ke-27. Sebanyak 100 takmir masjid dan guru ngaji dari lima kecamatan di Kota Surakarta mengikuti pelatihan metodologi mengajar Al-Qur’an, Sabtu (3/10/2026).
Kegiatan yang dimulai pukul 08.00 WIB tersebut digelar di Masjid Laweyan, Jalan Liris 1, Belukan, Pajang, Laweyan. Program ini diselenggarakan LAZ SOLOPEDULI bersama Takmir Masjid Laweyan, dengan dukungan Badan Koordinasi Lembaga Pendidikan Al-Qur’an (BADKO LPQ) Kota Surakarta dan Kementerian Agama Kota Surakarta.
Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Takmir Masjid Laweyan Ustaz Ipmawan Muhammad Iqbal atau Ustaz Iqbal, CEO LAZ SOLOPEDULI Sidik Anshori, S.Sos.I., Ketua BADKO LPQ Surakarta Daliman, S.Pd.I., M.Pd., serta perwakilan Kementerian Agama Kota Surakarta Sulaeman Rahmadi, S.H.I., yang juga pengurus PD DMI Surakarta bidang sarana, hukum, dan wakaf.
Ketua Takmir Masjid Laweyan Ustaz Iqbal menyambut baik dipilihnya Masjid Laweyan sebagai lokasi pembukaan program tersebut. Menurutnya, Masjid Laweyan memiliki nilai sejarah yang kuat dalam perkembangan dakwah Islam di Kota Surakarta.
“Menurut kami, pemilihan Masjid Laweyan sebagai lokasi kegiatan ini sangat tepat karena masjid ini memiliki sejarah panjang dalam perkembangan dakwah Islam di Kota Surakarta,” ujarnya.
Ustaz Iqbal menjelaskan, Masjid Laweyan dikenal sebagai salah satu masjid tertua di Solo yang berdiri sekitar tahun 1546 M dan didirikan Ki Ageng Henis, tokoh ulama sekaligus penyebar Islam di wilayah Laweyan yang juga dikenal sebagai leluhur raja-raja Wangsa Mataram.
“Ki Ageng Henis yang mendirikan Masjid Laweyan merupakan tokoh ulama dan penyebar agama Islam yang berdakwah di wilayah Laweyan. Makamnya berada di dekat masjid ini sehingga Masjid Laweyan memiliki nilai sejarah yang sangat kuat,” lanjutnya.
Sementara itu, CEO LAZ SOLOPEDULI Sidik Anshori mengatakan program Bebas Buta Al-Qur’an merupakan bagian dari rangkaian Milad ke-27 SOLOPEDULI. Selain pelatihan mengajar Al-Qur’an, program tersebut juga diwujudkan melalui gerakan wakaf 27.000 Al-Qur’an untuk masjid-masjid di Jawa Tengah.
“Program ini diawali dari Masjid Laweyan dengan membagikan 500 Al-Qur’an kepada peserta pelatihan yang terdiri dari guru ngaji dan takmir masjid,” kata Sidik.
Menurutnya, gerakan wakaf tersebut akan terus diperluas hingga menjangkau 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah. Wakaf Al-Qur’an itu merupakan amanah dari para donatur yang dipercayakan kepada SOLOPEDULI untuk disalurkan kepada masyarakat.
Sebelum pelatihan dimulai, dilakukan penyerahan secara simbolis mockup dan wakaf Al-Qur’an dari Sidik Anshori bersama perwakilan Kementerian Agama Kota Surakarta Sulaeman Rahmadi kepada Takmir Masjid Laweyan.
Pelatihan metodologi mengajar Al-Qur’an menghadirkan Ustaz Rudy Hartanto, S.Pd.I., M.Pd., sebagai narasumber. Ia menyampaikan materi “Cara Mudah dan Cepat Mengajarkan Al-Qur’an” dengan menggunakan metode Dzakira dari Zahrawain Indonesia.
Melalui pelatihan tersebut, para peserta mendapatkan pembekalan mengenai metode pembelajaran Al-Qur’an yang diharapkan dapat diterapkan kembali kepada para santri dan jamaah di masjid masing-masing.
Panitia dari SOLOPEDULI, Shintia, mengatakan peserta pelatihan berjumlah 100 orang yang terdiri atas takmir masjid dan guru ngaji dari lima kecamatan di Kota Surakarta, yakni Banjarsari, Jebres, Laweyan, Pasar Kliwon, dan Serengan.
“Perekrutan peserta bekerja sama dengan Kementerian Agama dan BADKO LPQ Surakarta,” jelasnya.
Selain memperoleh materi dan sertifikat, peserta juga mendapatkan makalah, Al-Qur’an, serta perlengkapan pendukung pembelajaran Al-Qur’an untuk digunakan di masjid masing-masing. Setiap peserta memperoleh dua Al-Qur’an ukuran A4 dan tiga Al-Qur’an ukuran A5, serta sejumlah bingkisan.
Kegiatan berlangsung hingga sekitar pukul 11.30 WIB. Menjelang akhir acara, peserta juga mendapat kejutan berupa kotak snack yang di dalamnya terdapat nomor untuk ditukarkan dengan hadiah doorprize.
Melalui program tersebut, SOLOPEDULI berharap pelatihan tidak berhenti pada peserta yang hadir, tetapi berkembang menjadi gerakan pembelajaran Al-Qur’an di masjid-masjid sehingga semakin banyak masyarakat mendapatkan akses belajar Al-Qur’an dengan metode yang mudah dan tepat.