PC DMI Laweyan Kirim 22 Peserta, Pelatihan Imam dan Khatib Jumat Dorong Kualitas Dakwah di Mimbar

Pimpinan Cabang Dewan Masjid Indonesia (PC DMI) Kecamatan Laweyan turut mendukung peningkatan kualitas dakwah di masjid dengan mengirimkan 22 peserta dalam Pelatihan Imam dan Khatib Jumat yang diselenggarakan Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Pemerintah Kota Surakarta, Selasa–Rabu (27–28 Oktober 2026).

Pelatihan yang berlangsung di Ruang Balai Manganti Praja, Kompleks Balai Kota Surakarta, tersebut diikuti para imam dan khatib Jumat utusan kelurahan dari lima kecamatan di Kota Surakarta. Peserta dibagi berdasarkan wilayah kecamatan selama dua hari pelaksanaan.

Kecamatan Laweyan mendapat giliran pada hari kedua, Rabu (28/10/2026), bersama peserta dari Kecamatan Pasar Kliwon dan Serengan. Sementara itu, pelatihan hari pertama diikuti peserta dari Kecamatan Banjarsari dan Jebres.

Sekretaris PC DMI Laweyan, Agung Nugraha, menyambut baik penyelenggaraan kegiatan tersebut. Menurutnya, pelatihan ini menjadi kesempatan penting bagi para imam dan khatib untuk meningkatkan kompetensi, memperluas wawasan keagamaan, serta memperbaiki adab dan teknik penyampaian khutbah.

“PC DMI Laweyan berupaya membantu menyukseskan kegiatan yang diselenggarakan Kesra Pemerintah Kota Surakarta dengan mengirimkan peserta sesuai kuota yang diberikan panitia, yakni 22 orang. Alhamdulillah, kuota tersebut dapat terpenuhi,” ungkapnya.

Khatib Dituntut Mampu Menyampaikan Pesan yang Menyentuh

Kegiatan hari kedua dibuka oleh perwakilan Bagian Kesra Pemerintah Kota Surakarta, Bambang Harjanto. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa pelatihan tersebut bertujuan meningkatkan kemampuan imam dan khatib Jumat, terutama dalam menyampaikan khutbah yang terarah, menarik, dan mudah dipahami jamaah.

Menurut Bambang, penyampaian khutbah yang baik sangat diperlukan agar jamaah dapat menjaga konsentrasi dan memahami pesan keagamaan yang disampaikan. Dengan demikian, khutbah tidak sekadar menjadi rutinitas ibadah, tetapi juga mampu memberikan manfaat bagi kehidupan sehari-hari.

Materi pelatihan disampaikan Hasan El Qudsi atau Abdul Kholiq Hasan, dosen UIN Raden Mas Said Surakarta. Ia menyoroti pentingnya manajemen waktu dalam penyampaian khutbah Jumat.

Menurutnya, khutbah yang terlalu panjang berpotensi membuat jamaah kehilangan fokus. Karena itu, khatib perlu mengatur durasi secara efektif tanpa mengurangi substansi pesan yang disampaikan.

Hasan juga mengingatkan agar khatib tidak sekadar membaca naskah khutbah tanpa memahami dan menjiwai isinya. Seorang khatib dituntut menguasai materi sekaligus memiliki kemampuan komunikasi yang baik agar pesan keagamaan dapat diterima dan menyentuh hati jamaah.

“Keberhasilan khutbah bukan semata-mata diukur dari banyaknya materi yang disampaikan, melainkan juga dari sejauh mana pesan tersebut mampu mendorong perubahan perilaku jamaah,” demikian inti pesan yang ditekankan dalam materi pelatihan.

Ia menambahkan, khatib perlu memahami karakteristik mustami atau pendengar. Materi khutbah hendaknya disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan jamaah agar relevan dengan persoalan kehidupan yang mereka hadapi.

Khatib juga diingatkan untuk berhati-hati dalam mengangkat persoalan khilafiah atau perbedaan pandangan keagamaan yang berpotensi memicu perdebatan dan mengganggu kerukunan masyarakat.

Selain penguasaan materi, persiapan teknis juga menjadi perhatian. Khatib perlu memahami fikih khutbah, menjaga kesiapan fisik, menyusun naskah secara matang, serta memastikanya perangkat pengeras suara dan mikrofon berfungsi dengan baik sebelum khutbah dimulai.

Dialog dan Simulasi Khutbah Perkaya Pengalaman Peserta

Pelatihan tidak hanya diisi dengan penyampaian teori. Setelah pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan dialog dan tanya jawab antara peserta dan pemateri.

Melalui sesi tersebut, peserta memperoleh kesempatan untuk memperdalam pemahaman mengenai tata cara khutbah, pengelolaan waktu, serta berbagai persoalan yang kerap dijumpai dalam pelaksanaan tugas sebagai imam dan khatib Jumat.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan praktik atau simulasi khutbah Jumat. Sesi ini memberikan kesempatan kepada peserta untuk mempraktikkan teknik penyampaian khutbah berdasarkan materi yang telah diterima.

Salah satu peserta, Arif Nuryanto, yang mewakili Masjid Baiturrohman, Tegalrejo, Sondakan, Laweyan, mengapresiasi pelaksanaan pelatihan tersebut. Ia mengaku antusias mengikuti kegiatan setelah memperoleh informasi dari pengurus masjid.

“Saya antusias mengikuti pelatihan ini. Bahkan, pekerjaan saya rela saya tunda karena kegiatan ini penting untuk mengevaluasi pelaksanaan tugas saya sebagai imam dan khatib Jumat. Saya ingin memperbaiki berbagai kekurangan maupun kesalahan yang mungkin masih terjadi,” ungkap Arif.

Ia menilai pelatihan tersebut memberikan banyak pengetahuan baru yang dapat diterapkan saat menjalankan tugas di masjid. Karena itu, ia menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Kota Surakarta, khususnya Bagian Kesra, yang telah menyelenggarakan kegiatan tersebut.

Pelatihan imam dan khatib Jumat pada hari kedua berlangsung mulai pukul 09.15 hingga 11.30 WIB.

Melalui kegiatan ini, diharapkan para imam dan khatib Jumat di Kota Surakarta semakin siap menjalankan amanah di masjid masing-masing. Tidak hanya memenuhi ketentuan pelaksanaan ibadah, mereka juga diharapkan mampu menyampaikan khutbah secara santun, terarah, menyejukkan, serta membawa pesan yang bermanfaat bagi jamaah dan masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TOP