Gus Karim Pimpin Peletakan Batu Pertama Pembangunan Masjid Baitussurur Batikan

Jumat, 14 Agustus 2026, menjadi hari bersejarah bagi jamaah Masjid Baitussurur, Batikan, Bumi, Laweyan, Surakarta. Pembangunan masjid yang berlokasi di Jalan KH Samanhudi No. 61 tersebut resmi dimulai dengan peletakan batu pertama.
Peletakan batu pertama dipimpin Dewan Pakar PD DMI Surakarta, KH Abdul Karim Ahmad atau yang akrab disapa Gus Karim. Ia juga merupakan pimpinan Pondok Al Qur’anny Azzady.

Kegiatan tersebut dihadiri sejumlah ulama dan tokoh masyarakat, di antaranya Dewan Muhtasyar PC DMI Kecamatan Laweyan KH Agus Himawan yang juga pengasuh Pondok Pesantren Al Muayyad, Ketua Pengurus Masjid Baitussurur KH Mahmudi, KH Khoirul Mustamir, Ustaz Nur Khotib dari Pondok Pesantren Al Muayyad, KH Muhammad Ali dari Pondok Pesantren Takmirul Islam, KH Ibrahim Asfari dari Majelis Pakar PC DMI Kecamatan Laweyan sekaligus pengurus Masjid Raya Sheikh Zayed Surakarta, serta Ustaz H. Nabihul Janan dari Majelis Tali Jiwo.

Acara diawali dengan pembacaan dzikir dan tahlil yang dipimpin KH Agus Himawan. Selanjutnya, Ketua Pengurus Masjid Baitussurur Batikan, KH Mahmudi atau yang biasa disapa Mbah Mahmudi, menyampaikan sambutan.

Dalam sambutannya, Mbah Mahmudi berharap proses pembangunan Masjid Baitussurur berjalan lancar dan mendapat keberkahan serta dukungan dari berbagai pihak.

Memasuki acara inti, sekitar pukul 07.45 WIB, para tamu undangan menuju lokasi yang telah disiapkan untuk peletakan batu pertama. Gus Karim menjadi orang pertama yang meletakkan batu sebagai tanda dimulainya pembangunan, kemudian dilanjutkan sejumlah tokoh dan tamu undangan lainnya. Prosesi berlangsung khidmat dan diiringi lantunan shalawat dari jamaah yang hadir.

Usai prosesi peletakan batu pertama, acara dilanjutkan dengan doa yang dipimpin sejumlah ulama, di antaranya KH Khoirul Mustamir, KH Abdul Karim Ahmad, dan KH Ibrahim Asfari. Rangkaian kegiatan berakhir sekitar pukul 08.45 WIB.

Telah Tiga Kali Dibangun
Dalam kesempatan tersebut, Gus Karim menjelaskan bahwa Masjid Baitussurur telah mengalami pembangunan dan pemugaran sebanyak tiga kali. Pada awal berdirinya, masjid tersebut bernama Langgar Batikan.
Kemudian pada tahun 1982 dilakukan pemugaran dan nama masjid berubah menjadi Masjid Baitussurur. Kini, pada tahun 2026, masjid kembali menjalani pemugaran secara total.

Gus Karim mengungkapkan, ketika perubahan nama menjadi Masjid Baitussurur, ayahandanya, almarhum KH Ahmad Mustofa, berpesan agar masjid tersebut tidak digunakan untuk pelaksanaan salat Jumat.

Namun, seiring perkembangan jamaah dan semakin pesatnya kegiatan keagamaan di masjid tersebut, rencana penggunaan Masjid Baitussurur untuk salat Jumat mulai diwujudkan setelah pembangunan selesai.

“Jamaah dan kegiatan di Masjid Baitussurur sekarang berkembang pesat. Lingkungan juga sangat mendukung,” ujar Gus Karim.

Pembangunan kembali Masjid Baitussurur diharapkan tidak hanya menghasilkan bangunan masjid yang lebih representatif, tetapi juga semakin memperkuat peran masjid sebagai pusat ibadah dan kegiatan keumatan bagi masyarakat Batikan, Bumi, Laweyan, dan sekitarnya.

Prosesi peletakan batu pertama berlangsung selama kurang lebih satu jam, dari pukul 07.45 WIB hingga 08.45 WIB, dengan suasana penuh khidmat dan kebersamaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TOP