Masjid Agung Surakarta yang berlokasi di Kauman, Pasar Kliwon, Kota Surakarta, tidak hanya dikenal sebagai masjid bersejarah dan cagar budaya, tetapi juga sebagai pusat literasi Islam melalui Perpustakaan Masjid Agung Surakarta. Perpustakaan ini menyimpan ratusan manuskrip atau naskah kuno berisi pengetahuan Islam yang bernilai tinggi.
Tercatat, sebanyak 148 manuskrip Islam tersimpan rapi dan terawat di perpustakaan tersebut. Koleksi bersejarah ini menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat umum maupun kalangan akademisi. Sejumlah lembaga pendidikan telah melakukan kunjungan, di antaranya Sekolah Tinggi Ilmu Agama (STIA) Al Anwar Sarang, Rembang, ISI Surakarta, UIN Raden Mas Said Surakarta, UIN Sunan Ampel Surabaya, serta mahasiswa Sastra Arab Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.
Ketua Takmir Masjid Agung Surakarta yang juga Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Surakarta, KH. Muhammad Muhtarom, M.Si., M.Pd.I., menyampaikan bahwa sebagian besar manuskrip tersebut belum banyak dikaji secara akademik.
“Alhamdulillah, Perpustakaan Masjid Agung Surakarta menyimpan 148 manuskrip atau naskah Islam. Belum banyak yang dikaji, salah satunya yang sudah diteliti adalah manuskrip Sirojul Muluk yang ditulis pada masa pemerintahan Paku Buwono IX,” ungkapnya.
Selain itu, perpustakaan juga menyimpan koleksi langka lainnya, seperti Al-Qur’an 30 juz, tafsir Al-Qur’an 30 juz, hadis Mi’rajul Makuni tiga jilid, kitab ilmu nahwu, ilmu sharaf, kamus, tasawuf, Ihya Ulumuddin beberapa jilid, serta kitab fikih Fathul Qarib dan berbagai kitab keislaman lainnya.
Atas dedikasi dan kerja keras pengelola perpustakaan, pada tahun 2023 Perpustakaan Masjid Agung Surakarta meraih penghargaan Nugra Jasa Dharma Pustaloka dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Penghargaan tersebut merupakan apresiasi tertinggi bagi individu atau lembaga yang berjasa dalam memajukan literasi dan budaya gemar membaca di Indonesia.
“Penghargaan ini adalah buah dari keuletan dan ketekunan pengelola perpustakaan dalam mengembangkan literasi melalui perpustakaan masjid,” tambah Kyai Muhtarom.
Di akhir perbincangan, Kyai Muhtarom berpesan agar generasi muda merasa bangga terhadap peninggalan leluhur berupa manuskrip Islam tersebut dan terdorong untuk mengkajinya satu per satu.
“Manuskrip ini sangat langka. Tidak semua kerajaan dahulu membukukan karya para pujangga. Bisa jadi ada manuskrip lain yang hilang karena tidak dirawat, bencana alam, atau peperangan. Maka yang masih ada ini harus dijaga dan dikaji,” pungkasnya.
Perpustakaan Masjid Agung Surakarta pun terbuka bagi masyarakat dan kalangan akademisi yang ingin meneliti serta menggali khazanah keilmuan Islam dari manuskrip bersejarah tersebut.