Dewan Masjid Indonesia (DMI) jangan hanya berkutat pada urusan ibadah. Organisasi yang menaungi masjid, langgar, dan musala itu harus mampu mengambil peran lebih luas dalam kehidupan masyarakat, termasuk bidang dakwah, pendidikan, ekonomi umat hingga pembinaan generasi muda.
Pesan tersebut disampaikan Ketua Pimpinan Wilayah (PW) DMI Jawa Tengah Prof. Dr. KH Ahmad Rofiq, MA, saat memberikan sambutan dalam pembukaan Musyawarah Daerah (Musda) PD DMI Surakarta, Sabtu (26/9/2026).
Musda digelar di Aula Yayasan Jamaah Masjid Agung Surakarta, Kompleks Masjid Agung Kauman, Pasar Kliwon, Surakarta. Prof. Rofiq mengapresiasi pelaksanaan Musda tersebut dan menyampaikan terima kasih kepada jajaran PD DMI Surakarta yang telah berupaya menyelenggarakan agenda organisasi.
Menurut Prof. Rofiq, DMI Surakarta selama ini cukup aktif menggelar berbagai kegiatan. Namun, ia meminta semangat tersebut terus ditingkatkan, terutama dalam mengawal dan memberdayakan masjid, langgar, serta musala yang ada di Kota Surakarta.
“Di Surakarta ada 749 masjid dan 176 langgar maupun musala. Ini merupakan potensi yang luar biasa. Karena itu harus terus dikawal dan diberdayakan,” ujarnya.
Marbot dan Pengurus Masjid Perlu Perlindungan
Prof. Rofiq juga meminta DMI Surakarta mulai memikirkan kesejahteraan serta keselamatan kerja para marbot dan pengurus masjid.
Ia mendorong agar para marbot dan pengurus masjid dapat memperoleh perlindungan melalui BPJS Ketenagakerjaan. Untuk merealisasikannya, DMI dapat menggandeng berbagai lembaga yang memiliki kepedulian terhadap umat, termasuk lembaga seperti BAZNAS.
Menurutnya, perhatian terhadap para pengelola masjid merupakan bagian dari upaya memperkuat ekosistem kemasjidan.
Masjid Jangan Hanya Menjadi Tempat Ibadah
Lebih jauh Prof. Rofiq menginginkan DMI mampu mendorong perubahan paradigma pengelolaan masjid. Masjid, katanya, tidak semestinya hanya digunakan sebagai tempat ibadah.
Masjid harus dapat menjadi pusat dakwah, pendidikan, pemberdayaan ekonomi umat dan bahkan dikembangkan sebagai bagian dari wisata religi.
“Masjid harus bisa menjadi solusi terhadap persoalan umat,” tegasnya.
Ia menyebut sejumlah persoalan yang membutuhkan perhatian, antara lain masalah keluarga dan kenakalan remaja.
Dengan nada prihatin, Prof. Rofiq menyinggung kondisi pergaulan sebagian anak muda saat ini. Berdasarkan survei yang disampaikannya, pergaulan anak muda usia belasan tahun dinilai sudah semakin mengkhawatirkan, bahkan terdapat perilaku seksual yang menyerupai hubungan suami istri.
Kondisi tersebut, menurut Prof. Rofiq, menjadi tantangan bagi DMI dan seluruh pengelola masjid. Masjid perlu mengambil peran dalam memberikan pembinaan dan menyediakan ruang kegiatan positif bagi generasi muda.
DMI Diminta Bersinergi dengan Pemerintah
Untuk memperkuat berbagai program tersebut, Prof. Rofiq berharap DMI Surakarta membangun sinergi dengan pemerintah. Dukungan pemerintah, termasuk dukungan pendanaan operasional, dinilai diperlukan agar kegiatan DMI dapat berjalan secara optimal.
“DMI harus bisa bersinergi dengan pemerintah agar mendapat support dalam melaksanakan operasional dan program-programnya,” katanya.
Prof. Rofiq yang memimpin PW DMI Jawa Tengah periode 2022–2027 itu kemudian mengucapkan selamat kepada PD DMI Surakarta yang melaksanakan Musda.
Ia berharap Musda menghasilkan pemimpin yang berkualitas dan mampu membawa DMI Surakarta semakin maju serta memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
“Semoga terpilih pemimpin yang berkualitas, membawa DMI Surakarta tambah maju dan bermanfaat di masyarakat,” pungkasnya.