Masjid NU Hj. Sri Sarjanti Soejitno atau yang dikenal sebagai Masjid S3 Pajang, beralamat di Jalan Joko Tingkir Nomor 6, Pajang, Laweyan, Surakarta, selama empat bulan terakhir rutin menggelar pembacaan Sahadat Kures, karya Sultan Agung Hanyokrokusumo, Raja Mataram Islam yang dikenal menentang penjajahan VOC Belanda.
Seperti pada Kamis malam, 22 Januari 2026, pembacaan Sahadat Kures kembali dilaksanakan di Masjid S3 Pajang. Kegiatan ini digelar secara rutin setiap malam Jumat Kliwon, dimulai setelah salat Magrib hingga menjelang salat Isya.
Pengurus Masjid S3 Pajang, Johan Syafaat, mengatakan kegiatan ini bertujuan melestarikan budaya Jawa yang bernilai Islami sekaligus mengenalkan karya keagamaan peninggalan Sultan Agung kepada masyarakat luas.
“Sahadat Kures merupakan bacaan ciptaan Sultan Agung Hanyokrokusumo yang di dalamnya berisi ajaran tauhid, pengenalan sifat-sifat Allah SWT, serta sifat-sifat Nabi Muhammad SAW. Namun bacaan ini masih asing bagi sebagian umat,” ujarnya.
Untuk menjaga keaslian dan pemahaman isi Sahadat Kures, pihak masjid melibatkan ulama dari Keraton Kasunanan Surakarta. Para ulama tersebut berperan memberikan penjelasan mengenai makna dan tata cara pembacaan Sahadat Kures.
Dalam pelaksanaannya, jamaah dianjurkan mengenakan busana muslim bernuansa tradisional, seperti baju putih, sarung batik, peci hitam, atau blangkon. Selain itu, pengurus masjid juga menyajikan hidangan khas seperti tradisi keraton, antara lain ingkung ayam utuh, nasi gurih (sego gurih), aneka jajan pasar, serta buah-buahan.
“Setelah rangkaian tahlil, pembacaan Sahadat Kures, dan doa selesai, makanan tersebut dibagikan kepada jamaah dalam tradisi bancaan,” tambah Johan.
Ia juga menjelaskan bahwa hingga saat ini pembacaan Sahadat Kures masih rutin dilaksanakan di Keraton Kasunanan Surakarta. Sementara di Keraton Yogyakarta, Pura Mangkunegaran, maupun Pura Pakualaman, tradisi tersebut tidak dijumpai.
Di akhir keterangannya, Johan menegaskan Masjid S3 Pajang akan terus berupaya mengenalkan serta melaksanakan kembali budaya Islami yang berkembang pada masa kerajaan Islam, khususnya di lingkungan Keraton Surakarta dan era Wali Songo.