Di Tahun Politik, Masjid Harus Bisa Menjadi Penyejuk, Bukan Pemicu Konflik

Di tahun politik ini, kita ingin agar para khatib itu bisa menjadi penyejuk, jangan malah menjadi pemicu konflik di tengah masyarakat,

Demikian disampaikan Muhamad Muhtarom, Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Surakarta saat ditanya mengenai pembinaan khatib dibeberapa kecamatan yang ada di Kota Surakarta, melalui telepon selulernya pada Senin (27/11) malam.

Selain itu, Ia juga berharap agar para khatib itu nantinya bisa memfasilitasi seluruh umat. “Umat ini kan sikap politiknya berbeda-beda. Kalau khatib menyampaikan sesuatu yang sifatnya subyektif, misalnya, kan menjadi kurang bijak,” tegasnya.

Oleh karena itu, para khatib juga harus mampu meredam dan menjadi penghubung umat, bukan malah masjid yang dijadikan tempat berpolitik.

Saat dikonfirmasi terkait nama masjid yang berpolitik saat ini, pria asal Grobogan itu tidak menyebut secara spesifik. Namun secara normatif masjid itu seyogyanya tidak digunakan untuk kegiatan semacam itu. Karena jamaah masjid itu kan dari berbagai unsur masyarakat yang heterogen.

Untuk memenuhi keinginannya itu, Muhtarom mengarahkan semua panitia penyelenggara pelatihan khatib agar menghadirkan narasumber yang telah memenuhi kualifikasi dan sudah ditentukan oleh panitia di masing-masing kecamatan.

Adapun kriterianya, Pertama, seorang khatib harus paham tentang ilmu fikih, kedua mampu menyampaikan pesan-pesan dengan baik yang bisa menyejukkan umat. “Kalau marasumbernya tidak mampu ya tentu tidak kita pilih,” selorohnya.

Oleh sebab itu, pembinaan khatib itu digencarkan dengan tujuan agar para khatib benar-benar memahami tentang rukun khotbah yang paling mendasar dan yang lainnya.

“Kadang-kadang rukun khotbah ini kurang begitu diperhatikan. Padahal ini sangat urgen,” ungkap Muhtarom prihatin.

Semua itu dilakukan pengurus DMI dengan tujuan agar Kota Solo tetap kondusif walaupun tidak di tahun politikpun.

“Jadi masjid-masjid inilah yang akan menjadi pionir-pionir dalam mengawal kondusifitas di masyarakat,” pungkasnya.

Perlu diketahui, pelatihan khatib terakhir, dari lima kecamatan yang ada, dilaksanakan di gedung MT Nur Karimah pada Ahad (26/11) kemarin. Acara diikuti 30 orang peseta dari berbagai masjid di sekitarnya. (Abdus Sholeh)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TOP