Remaja Masjid Kepatihan Wetan Jebres Lestarikan Tradisi Beduk Sahur Selama 10 Tahun

Suasana dini hari di lingkungan Kepatihan Wetan, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta, setiap bulan Ramadhan selalu diwarnai bunyi tabuhan drum yang menggema di sepanjang kampung. Bunyi bass drum, snare drum, dan tenor drum itu berasal dari kegiatan beduk sahur yang dilakukan para remaja masjid untuk membangunkan warga agar bersiap menjalankan ibadah puasa.

Pada Ramadhan 1447 Hijriah/2026 Masehi ini, kegiatan tersebut kembali dilaksanakan. Setiap dini hari, sekitar pukul 02.15 hingga 02.50 WIB, para relawan remaja masjid berkeliling kampung menabuh alat musik perkusi secara berirama sambil membangunkan warga untuk sahur.

Koordinator beduk sahur, Bimo Iswanto atau yang akrab disapa Bimo, mengatakan kegiatan ini telah berlangsung sejak tahun 2016 dan kini memasuki tahun ke-10 pelaksanaannya.

“Beduk sahur ini kami laksanakan setiap Ramadhan sejak 2016. Jadi sekarang sudah berjalan sekitar sepuluh tahun, dan saya termasuk generasi awal yang ikut dalam tim beduk sahur,” ujarnya.

Para peserta merupakan gabungan remaja dari berbagai masjid di wilayah Kepatihan Wetan. Titik kumpul mereka berada di Masjid Al Fatih Kepatihan, sebelum pukul 02.00 WIB para relawan sudah berkumpul untuk bersiap memulai perjalanan keliling kampung.

“Biasanya kami mulai jalan sekitar pukul 02.20 sampai 02.50. Personelnya setiap malam sekitar 20 orang, kebanyakan remaja dan anak muda,” kata Bimo.

Meski Ramadhan tahun ini bertepatan dengan musim penghujan dengan curah hujan yang cukup tinggi, semangat para relawan tidak surut. Bahkan ketika hujan turun saat waktu sahur, mereka tetap berkeliling kampung untuk menjalankan kegiatan tersebut.

“Pernah saat sahur hujan turun. Saya sempat menyarankan menunggu hujan reda, tapi teman-teman tetap ingin jalan. Semangat mereka luar biasa,” jelasnya.

Selain itu, kegiatan beduk sahur ini juga dikelola secara swadaya oleh para relawan. Peralatan tabuh seperti bass drum, snare drum, dan tenor drum dibeli dari hasil patungan para anggota.

Menurut Bimo, tradisi ini mendapat sambutan positif dari masyarakat setempat karena dinilai membantu warga untuk bangun sahur.

“Alhamdulillah warga menyambut baik. Banyak yang merasa terbantu dibangunkan sahur. Mungkin itu juga yang membuat kegiatan ini bisa bertahan sampai sepuluh tahun,” katanya.

Tradisi beduk sahur yang dilakukan para remaja masjid di Kepatihan Wetan ini pun menjadi salah satu bentuk kebersamaan generasi muda dalam menjaga semangat Ramadhan sekaligus mempererat hubungan sosial di lingkungan masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TOP