Bubur Samin Masjid Darussalam Jayengan, Primadona Kuliner Ramadan di Solo

Bubur samin menjadi kuliner khas yang selalu dinanti masyarakat setiap bulan Ramadan di Masjid Darussalam Jayengan. Tradisi berbagi bubur samin gratis ini kembali hadir pada Ramadan 1447 Hijriah/2026 Masehi dan menjadi magnet bagi warga yang ingin menikmati hidangan berbuka puasa khas Banjar tersebut.

Masjid yang berlokasi di Jalan Gatot Subroto No. 161, Jayengan, Kecamatan Serengan ini setiap hari membagikan lebih dari seribu porsi bubur samin kepada masyarakat.

Koordinator pembuatan dan pembagian bubur samin, Muyasin—yang akrab disapa Yasin—menjelaskan bahwa tradisi ini berawal dari kerinduan para perantau Banjar terhadap kuliner kampung halaman mereka.

“Tradisi membuat bubur samin ini dimulai pada tahun 1965 oleh almarhum H. Anang Sahrani, putra dari H. Abdul Somad. Beliau adalah warga Banjar dari Kalimantan Selatan yang merantau dan tinggal di Solo,” ujar Yasin.

Pada awalnya, bubur samin hanya dimasak sekitar 100 porsi untuk konsumsi internal warga Banjar yang tinggal di Surakarta. Namun, karena masyarakat sekitar ikut mencicipi dan menyukai rasanya, tradisi ini berkembang.

“Sejak tahun 1985 bubur samin mulai dibagikan kepada masyarakat umum di sekitar Jayengan,” jelasnya.

Bubur samin sendiri merupakan kuliner khas Banjar yang dimasak menggunakan minyak samin serta berbagai rempah yang memberi cita rasa gurih dan harum. Menariknya, hidangan ini hanya diproduksi selama bulan Ramadan dan tidak dibuat di luar bulan puasa.

Pada Ramadan tahun ini, panitia memasak bubur menggunakan sekitar 50 kilogram beras setiap hari. Dari jumlah tersebut dihasilkan sekitar 1.150 porsi bubur.

Sebanyak 150 porsi disediakan untuk jamaah yang mengikuti buka puasa bersama di masjid, sementara sekitar 1.000 porsi lainnya dibagikan kepada masyarakat.

Pendanaan kegiatan ini berasal dari donatur warga Banjar di Solo, masyarakat sekitar masjid, serta dukungan dari Pemerintah Kota Surakarta. Bahkan dalam delapan tahun terakhir, bantuan beras juga datang dari donatur di Singapura.

Pembagian bubur samin dilakukan setiap hari setelah salat Asar. Seperti yang terlihat pada Ahad (8/3/2026), warga tampak mengantre panjang dengan membawa berbagai wadah seperti rantang untuk membawa pulang bubur samin.

Antusiasme masyarakat sangat tinggi. Bubur samin yang dibagikan biasanya selalu habis dalam waktu sekitar satu hingga satu setengah jam.

Tradisi bubur samin di Masjid Darussalam Jayengan ini bukan sekadar kuliner Ramadan, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan dan akulturasi budaya antara warga Banjar dan masyarakat Solo yang telah terjalin selama puluhan tahun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TOP