Masjid Laweyan Terbuka untuk Kunjungan Pelajar di Bulan Ramadhan 1447 H

Momentum Ramadhan 1447 Hijriah membawa suasana berbeda di Masjid Laweyan, Jalan Liris No. 1, Belukan, Pajang, Laweyan. Jumlah pengunjung meningkat dibanding hari biasa. Tidak hanya untuk beribadah, masjid bersejarah ini juga menjadi tujuan edukasi para pelajar yang ingin mengenal jejak sejarah Islam di Kota Solo.

Pada Kamis (26/2/2026) pukul 07.30–09.30 WIB, puluhan siswa KB TK NDM Sondakan mengunjungi masjid yang dikenal sebagai salah satu yang tertua di Surakarta, berdiri sejak tahun 1546. Para siswa didampingi bapak dan ibu guru serta Kepala TK NDM Sondakan.

Pengurus bidang humas Masjid Laweyan, Muhammad Nugroho—akrab disapa Hoho—menyampaikan sambutan sekaligus memaparkan sejarah berdirinya masjid di hadapan para siswa. Ia menjelaskan bahwa Masjid Laweyan memiliki nilai historis tinggi dan menjadi bagian penting perkembangan Islam di Surakarta.

“Masjid Laweyan sudah lama terbuka menerima kegiatan kunjungan pelajar, kurang lebih 20 tahun terakhir. Kegiatan ini edukatif dan menyenangkan karena anak-anak bisa belajar di luar kelas. Belajar tidak harus selalu di ruang sekolah,” ujar Hoho.

Dalam kesempatan tersebut, Hoho juga mengenalkan sejumlah benda kuno yang masih terawat hingga kini, seperti bedug, kentongan, serta mimbar khutbah unik berusia lebih dari 100 tahun yang merupakan peninggalan era Pakubuwono X.

Menurutnya, mengenalkan masjid sejak dini dapat menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap sejarah dan tempat ibadah. “Dari rasa cinta terhadap masjid bisa lahir mimpi besar—menjadi budayawan, ustadz, atau ustadzah masa depan yang kelak menggantikan kami,” tambahnya.

Pihak pengurus juga mempersilakan lembaga pendidikan yang ingin berkunjung untuk mempelajari sejarah Masjid Laweyan. Pengurus siap membantu dengan pemandu yang akan menjelaskan sejarah dan nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya.

Secara fisik, Masjid Laweyan masih mempertahankan bentuk asli dan nuansa tradisionalnya. Namun, sejumlah fasilitas modern telah ditambahkan untuk kenyamanan jamaah, seperti pendingin ruangan (AC) dan pintu kaca model tempered.

Kunjungan edukatif ini menjadi bukti bahwa masjid bukan hanya pusat ibadah, tetapi juga ruang belajar sejarah dan pembentukan karakter generasi muda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TOP