Menghadap arah kiblat merupakan syarat syahnya sholat. Namun masih adanya tempat ibadah, masjid dan musholla di Soloraya yang belum tepat arah kiblatnya, memperoleh perhatian besar dari Bimas Islam Kemenag Kota Surakarta. Guna menuntaskan permasalahan tersebut, sedikitnya 26 pengurus/takmir masjid yang ada di Kota Surakarta diundang dalam acara “Pelatihan Pengukuran Arah Kiblat dengan Metode Theodolite”, yang akan digelar di Masjid Jamsaren pada Rabu (04/12/24) besok.
Demikian disampaikan Achmad Arifin, Kepala Seksi Bimas Islam Kemenag Kota Surakarta, saat wawancara via handphone pada Senin (02/12/24) sore.
Arifin menambahkan kelebihan dari alat Theodolite itu, dioperasionalkan kapan saja, selama siang hari, pasti tepat. Sebelumnya tim dari Bimas Islam bersama tim operator MAN 1 Surakarta telah memperagakan alat tersebut di MAN 1 Surakarta.
Dasar diadakan pelatihan pengukuran arah kiblat tersebut, menurut Arifin, selain sudah masuk dalam DIPA, karena menjadi mandat yang harus dikerjakan. “Kalau tidak (saya kerjakan) ya salah”, imbuhnya.
Saat pelatihan nanti, katanya, para peserta tidak perlu membawa alat. Akan tetapi, cukup membawa handphone android saja.
“Kalau peserta barangkali tidak perlu membawa alat. Yang jelas ngasto HP android, itu cukup. Karena nanti kemungkinan sangat perlu dukungan data dari android, terkait dengan azimuth, misalnya, dan lain sebagainya”, ungkapnya.
Apabila ada masjid yang perlu membenarkan arah kiblatnya, katanya, pihak Kemenag siap untuk mengukur ulang arah kiblatnya.
Saat ditanya target dari pelaksanaan pelatihan pengukuran arah kiblat tersebut, mantan penyelenggara Zawa kemenag Kota Surakarta itu mengatakan bahwa nantinya masing-masing kecamatan akan diwakili hanya lima orang atau lima masjid. “Karena anggarannya terbatas”, bebernya.
Sebagai penutup, dengan diadakannya pelatihan tersebut, Ia berharap sosialisasi pemakaian theodolite di era digital ini benar-benar bisa dilaksanakan dengan baik di masyarakat. (Sol)