Ilmu Sudah Didapat, Pantang Bacaan Imam Dan Adzan Tidak Tepat

Ilmu Sudah Didapat, Pantang Bacaan Imam Dan Muadzin Tidak Tepat

Kegiatan menarik DMI pekan ini tidak lain adalah pelaksanaan Pembinaan Kader Muadzin Dan Imam Masjid Di Kota Surakarta 2024. Kegiatan yang dipenuhi para imam dan muadzin masjid yang ada di Solo Raya itu, memperoleh sambutan yang luar biasa dan sangat bermanfaat untuk merubah lantunan para muadzin dan imam Sholat. Berikut hasil wawancara dari peserta yang mengikuti Pembinaan Kader Muadzin & Imam Masjid yang digelar di Aula Man Jadda Wajada, SMA Diponegoro pada Sabtu (23/11) kemarin.

Menurut pengakuan Rafi (21 th), remaja yang pernah belajar di Pondok Pesantren Jamsaren, Solo ini, dua materi yang telah diperoleh dari kedua narasumber KH. Musta’in Nasoha, dengan materi “Fikih Adzan Dan Fikih Sholat”, dan Ust. Muhammad Amiruddin, materi dengan judul “Persiapan Menjadi Seorang Muadzin” tadi, banyak menambah ilmu yang selama ini hanya terpaut pada satu madhab saja. Karena apa yang baru saja dipelajari, tentang hukum-hukum fikih, terkait dengan masalah khilafiyah belum terlalu dalam.

“(Sementara) yang Saya pelajari dari Pondok Pesantren yang bermadhab imam Syafii saja. Dan kitab-kitab yang saya pelajari mungkin belum terlalu dalam sehingga saya sempit dalam memandang hukum-hukum fikih terkait perkara-perkara ikhtilaf itu, (dan sekarang) terbukalah fikiran Saya”, aku pemuda asal Riau saat diwawancara usai pembinaan.

Berkat acara tersebut, Ia pun teringat ada satu qaul dari Syeh Labib An Najib yang berbunyi Sya’nun fikih ajibun sya-a. ; bahwa fikih itu luas.Tidak seperti yang disangka. Ajib; sangat menakjubkan sekali.

“Apabila engkau memperdalamnya, maka ilmu tadi akan makin dalam. Ini yang Saya rasakan tadi”, tutur imam rowatib Masjid Jamsaren tersebut.

Dengan mengikuti kegiatan ini, Rafi mengaku semakin bertambah rasa toleransinya apabila ada ikhtilaf ditengah umat, serta menyadari adanya kemungkinan beberapa kesalahan ketika sedang menjadi imam.

Adapun terkait dengan masalah adzan,karena sebelumnya pernah menjadi marbot masjid dan merangkap sebagai muadzin, dengan kegiatan yang baru diikuti tersebut menjadikan dirinya tercerahkan dan menyadiri kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan.

Untuk itu, imam masjid yang masih muda belia itu mengaku puas dengan kegiatan tersebut. Ia bertekad usai mengikuti kegiatan itu akan menyampaikan kepada pengurus dan muadzinnya agar bisa melantunkan adzan dengan tepat sesuai dengan tajwidnya.

Hal yang sama juga dialami Rahmaditya Zainul Fikri (23). Remaja yang beralamat di Makam Bergolo, Serengan Surakarta yang mewakili pengurus Masjid Mujahidin, Serengan itu juga merasa tercerahkan.

“Terkait materi di sesi pertama tentang imam sangat tercerahkan sekali. Karena mungkin masih banyak beberapa kesalahan yang ada di Masjid Saya. Jadi ilmu yang disampaikan oleh Gus Mustain tadi bisa dimanfaatkan dan disebarkan untuk para imam di Masjid Saya Mujahidin, agar lebih sesuai dengan aturan menurut kitab-kitab fikih , tafsir dan hadits yang sudah ada”, akunya bloko suto.

Meskipun demikian, ia mengakui bahwa selama ini apa yang dilakukan oleh imam banyak yang sudah sesuai. Hanya saja, kadang-kadang masih ada bacaan yang mungkin imamnya belum faham atau karena faktor usia, sehingga bacaannya ada yang berubah.

Kemudian terkait dengan muadzin, Rahmadya merasa banyak ilmu yang bisa diperoleh daripada bahasan masalah imam. Hal itu dikarenakan masjidnya masih memiliki kekurangan untuk muadzinnya. Terutama, bacaan muadzinnya masih banyak yang belum sesuai dengan tajwidnya.

“Jadi kegiatan ini sangat bermanfaat untuk Masjid Mujahidin. Rencananya, kedepan akan kami terapkan ilmu yang kami terima ini, bersama dengan takmir, imam dan muadzin”, katanya.

Sementara itu, Abdus Sholeh (58) mewakili masjid Al Marwah Debegan menyampaikan bahwa selain kedua materi yang disampaikan lengkap dan terang benderang, maka kedepannya Imam dan muadzin di Masjid ayang ada dikawasan Solo Raya ini bisa berubah dengan adanya pencerahan yang digagas oleh pengusus DMI.

“Saya berpesan, khusus kepada sebagian umat islam yang melantunkan adzan, tepatnya sebelum sholat subuh. Mbok kalau bisa suaranya yang merdu dan jangan asal mengucapkan kalimah adzan. Kayaknya kok seperti orang yang sedang membentak”, pungkasnya. (Sol)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TOP