Bimas Islam Kemenag Kota Surakarta telah menggelar acara pelatihan pencarian arah kiblat dengan metode Theodolite. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang pentingnya akurasi dalam menentukan arah kiblat kepada takmir atau pengurus masjid yang ada di Kota Surakarta. Harapannya, dengan pelatihan tersebut umat islam bisa melaksanakan ibadah dengan arah kiblat yang benar.
Demikian disampaikan Pardi, mewakili Kasi Bimas Islam Kemenag Kota Surakarta, usai memberikan sambutan dalam acara “Pelatihan Pengukuran Arah Kiblat Dengan Metode Theodolite” pada Rabu (04/12/24), di Masjid Jamsaren, Serengan, Kota Surakarta. Kegiatan diikuti oleh perwakilan takmir masjid yang ada di Surakarta.
Dalam kesempatan itu, Pardi menawarkan, apabila ada masjid atau tempat ibadah, seperti hotel, di Kota Solo yang menghendaki pengukuran ulang arah kiblatnya, dimohon takmir mengajukan permohonan di Kemenag, dan tidak dipungut biaya, alias gratis.
Tentu nantinya, setelah takmir mendaftar akan didata terlebih dahulu. Kemudian apabila sudah tiba saatnya, pihak kemenag akan menghubungi pengurusnya.
“Meski beberapa masjid sudah pernah melakukan pengukuran arah kiblat, ada kalanya mereka enggan mengubah arah sholatnya, meskipun hasil pengukuran menunjukkan adanya ketidaktepatan,” ungkap Pardi yang juga pengurus daerah IPARI Kota Surakarta.
Lalu, bagaimana tanggapan peserta atas pelatihan yang telah diikuti tersebut ?. Berikut hasil wawancaranya.
Suhardi ( 66), mewakili Masjid An Nur, Mangkuyudan menyadari bahwa kemungkinan saja masjid yang selama ini digunakan untuk beribadah arah kiblatnya mengalami perubahan.
“Karena masjid itu didirikan sudah lama. Jadi barangkali dulu sudah, tapi mungkin ada perubahan”, ujarnya saat wawancara diteras masjid.
Untuk memastikan apakah akan dilakukan pengukuran arah kiblat ulang, katanya, Ia akan bermusyawarah dengan pengurus yang lain.
.
“Ya, mungkin saya pertimbangkan. Karena jamaah kami itu ‘kan bermacam-macam. Mungkin bisa saja terjadi ada yang berbeda pendapat. Makanya nanti dimusyawarahkan dulu”, imbuhnya.
Saat ditanya tanggapannya usai mengikuti acara yang digelar oleh Kemenag, lelaki yang masih terlihat lincah dan perkasa itu berharap agar sosialisasi terkait penentuan arah kiblat untuk masjid dan mushola tersebut bisa terus berlanjut, dikarenakan menghadap ke arah kiblat merupakan syarat sahnya ibadah, khususnya sholat.
Sementara Husen Triyono (54), mewakili Masjid Solihin, Punggawan mengatakan bahwa meskipun telah mengikuti pelatihan, namun masih belum bisa memahami dengan peralatan yang dianggapnya baru tersebut. Selain waktunya yang pendek dan perhitungannya rumit, ia beranggapan alat Theodolite itu sebaiknya digunakan disaat pendirian masjid yang baru.
Pernyataan tersebut bisa dimaklumi, mengingat, di Kota Solo ini masih ada masjid dan musholla yang berada ditengah perkampungan penduduk dengan posisi terjepit. Sehingga untuk menggunakan alat tersebut akan mengalami kesulitan.
Meskipun demikian, saat ditawari untuk ukur ulang arah kiblat masjidnya, Triyono pun tidak menampik. Akan tetapi, akan diadakan musyawarah terlebih dahulu.
“Nanti bisa dimusawarahkan dulu. Kalau kita putusi sendiri nanti ndak kesalahan, karena kita hanya utusan”, ungkapnya sambil tersenyum. (Sol).