Ragu Dengan Arah Kiblat, Kemenag Gratiskan Ukur Arah Kiblat

Dengan memanfaatkan seperangkat alat Theodolite, umat islam di Kota Surakarta, khususnya, sudah tidak lagi kesulitan untuk menentukan arah kiblat. Kapanpun dan dimanapun, selama matahari bisa terlihat, alat ini mampu mendeteksi arah kiblat dengan akurat.

Demikian disampaikan Muhamad Fiqhussunnah, Guru honorer yang mengajar Ilmu Falak di MAN 1 Surakarta, saat wawancara usai acara Pelatihan Pengukuran Arah Kiblat Dengan Metode Theodolite,di Masjid Jamsaren pada Rabu (04/12/24) kemarin. Pelatihan diikuti 24 peserta dari 26 tamu undangan mewakili takmir masjid yang ada di Kota Surakarta.

Dalam kesempatan itu, Afiq, panggilan sehari-hari, menambahkan apabila ada takmir atau pengurus masjid di Kota Surakarta menginginkan arah kiblatnya diukur ulang, diminta untuk segera mendaftar di kantor Kemenag Kota Surakarta dan tidak dipungut biaya.

“Untuk takmir masjid, silahkan ketika ingin mengukur kembali arah kiblat panjenengan dengan metode Thedolite, bisa mengajukan permohonan ke Kemenag. Itu tidak dipungut biaya, nanti didata; antrinya kapan, bisanya kapan, nanti akan diukur oleh kemenag langsung”, ujar pendidik yang mengaku baru satu tahun mengajar, di MAN favorit se-Soloraya itu.

Saat pemaparan, Afiq memberi kesempatan kepada beberapa peserta pelatihan untuk mencoba mengoperasikan alat theodolite, mulai dari mencari tempat yang strategis, pemasangan theodolite, hingga cara bagaimana mencari arah kiblat yang benar.

Kerumitan penggunaan alat tersebut, menurutnya, disebabkan adanya beberapa penghitungan dan pencocokan antara hasil deteksi alat theodolite yang dikonversikan dengan data deklinasi, data equation of time, dari almanak atau ephemeris hisab rukyat yang bisa diakses di website Kemenag.

Adapun untuk dapat mengoperasikan theodolite hingga menemukan titik arah kiblat, menurut Afiq melalui beberapa tahapan. Pertama, harus tahu lokasi kita dimana, lintang dan bujurnya apa. Kemudian, mengetahui hasil perhitungan data yang telah dikonversi.

“Kalau saya menggunakan pemrogaman exel. Setelah itu, kita pasang theodolitenya,diukur secara presisi lalu kita bidikkan ke matahari dulu. Jangan lupa ditulis jam berapa waktu membidik”, terangnya.

Ia menjelaskan, waktu yang tepat untuk membidik arah kiblat dimulai pagi hari hingga sore. Setelah matahari terbidik, maka data dimasukkan lagi sehingga akan ditemukan azimutnya. “Azimut itu adalah selisih arah matahari dengan arah kiblat”, ungkap lajang yang asli Boyolali itu.

Setelah azimuth diketahui, lanjutnya, theodolite kita putar dari arah matahari yang awal, menuju ke arah kiblat. “Itu baru tahu arah kiblat kita dimana. Atau baru bisa menentukan arah kiblat”, bebernya.

Dengan adanya pelatihan ini, Ia berharap para takmir/pegurus masjid bisa mengecek kembali arah kiblatnya dengan menggunakan theodolite. Hal itu dikarenakan kita tidak tahu dulu arah kiblat saat berdiri itu menggunakan metode apa, dan apakah sudah sesuai atau belum.

Saat pemaparan, Afiq juga menjelaskan kelemahan metode terdahulu menentukan arah kiblat dengan alat kompas, diantaranya tidak beracuan pada arah sejati, dan mudah terpengaruh oleh medan magnet.

Sementara bagi yang menggunakan metode Istiwa’/bayangan benda, atau biasa disebut Rashdul Qiblat, yaitu posisi dimana ketika matahari berada tepat diatas kabah.

Dalam satu tahun, terangnya, ada empat kali kesempatan untuk melakukan pengukuran arah kiblat secara alamiah tersebut, yakni pada setiap Bulan Mei dan Juli.

“Dalam satu tahun ada dua masa ketika tgl 27 dan 28 Mei, tgl 15 dan 16 Juli. Itu pasti matahari ada diatas kabah. Kalau dari Kota Solo, ketika Bulan Mei bisa dicek sore hari, mulai jam empat sore.Untuk bulan Juli bisa dicek mulai di jam 9 pagi. Sudah mulai bisa”, pungkas alumnus UIN Walisongo, Semarang yang lulus 2021 itu.

“Wah, pikiranku wis ora tekan. Nganggo itung-itungan barang. Njlimet tenan, ki. Yen mung sedino tetep ora mampu aku !”, ujar salah satu peserta ketika menyaksikan beberapa rekannya mengikuti arahan membidik matahari beserta hitungan yang harus dikonversikan terhadap data yang telah diberikan oleh narasumber. (Sol).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TOP