Pernyataan tegas ini, setidaknya diulang tiga kali oleh takmir masjid Al Hidayah, Semanggi, Pasar Kliwon, Ibrahim Bin Abdul Qadir Babhaer saat diwawancara usai masjidnya memperoleh kunjungan dari pejabat Forkompinda Kota Surakarta dalam acara safari sholat jum’at pada Jum’at (08/12) kemarin.
“Ya Alhamdulillah, wong namanya masjid. Untuk beribadah Siapa saja bisa masuk. Wong bukan milik pribadi atau golongan. Masjid kan untuk umum. Sesama muslim kan saudara. Silakan saja datang, tapi tidak ada muatan politik”, ujar Ibrahim yang sudah menginjak usia 67 tahun itu.
“Untuk masalah khilafiah saja saya tidak boleh. Jadi, netral. Mau faham NU, muhammadiyah silakan. Saya tidak pernah membedakan. Tapi untuk khilafiah sama masalah politik itu kita melarang. Yang penting untuk ibadah, untuk menambah keyakinannya, keimanannya dan memperluas ilmunya “, tuturnya.
Kunjungan forkompinda tersebut, menurut pengakuan Ibrahim, adalah yang pertama kali selama menjabat sebagai takmir. “Setelah menerima surat dari seseorang yang diberikan kepada muadzin, ya Saya tidak apa-apa. Masjid kan bukan milik golongan, tapi milik Allah. Yang mau jum’atan silakan, asal tidak mengandung muatan politik”, ujar Ibrahim yang terlihat sumringah sore itu.
“Lebih-lebih kalau mau silaturahmi, atau akan memberikan bantuan untuk fakir miskin ya silakan. Tidak apa-apa, wong namanya bantuan”, imbuhnya lagi.
Ibrahim sebelumnya tidak menduga kalau masjidnya akan memperoleh kunjungn dari para pejabat di pemerintahan Kota Surakarta. Meskipun acaranya hanya perkenalan dan safari sholat jum’at dari masjid ke masjid. “Mungkin dalam situasi pemilu ini untuk menjaga kerukunan agar aman. Tidak apa-apa, yang penting bisa beribadah dengan baik”, ujar pria yang sudah 45 tahun lebih sebagai takmir.
Dalam kunjungannya itu, menurut Ibrahim, ada beberapa pesan yang disampaikan, diantaranya kalau ada jamaah muslim yang penglihatanya berkurang dan keadaannya kurang mampu, maka akan diberi kacamata gratis untuk membaca. Selain itu, apabila ada warga yang tidak mampu kuliah akan dibantu oleh Baznas. “Jadi tidak apa, wong namanya menolong sesama muslim !’, ungkapnya.
Terkait dengan kunjungan tersebut, Ibrahim mengartikan bahwa para pemimpin pemerintahan di Kota Surakarta ini peduli terhadap warganya yang berada disekitar.
Diujung pembicaraannya, Ibrahim menerangkan bahwa masjid Al Hidayah status tanahnya adalah wakaf dari seorang pedagang di Pasar Klewer, Ibu Harjo Suripto pada 1987. Wakafnya, pada waktu itu, diserahkan ke ormas Muhammadiyah. Masjid ini memiliki luas tanah 400 m2. Adapun kegiatannya mulai dari TPA, pengajian rutin sabtu dan minggu malam, pemuda, dan tadarus malam.
Yang menarik, menurut pengakuannya, masjid ini dibangun dengan tidak pernah menarik bantuan dana dari jamaah. “Kalau mau membantu ya silakan. Infak saya sediakan didepan, tidak keliling. Supaya tidak mengganggu khutbah. Selain itu, saya khawatir jika infak itu keliling, nanti ada jamaah yang kurang enak karena tidak bisa memasukkan bantuan”, pungkasnya. (Abdus Sholeh).