Dari Masjid Agung, Kemenag Dorong Terwujudnya Pesantren Ramah Anak

Dari serambi Masjid Agung Surakarta, Kementerian Agama (Kemenag) Kota Surakarta menyerukan pentingnya mewujudkan pesantren yang aman, sehat, dan bebas dari kekerasan maupun diskriminasi. Seruan itu disampaikan oleh Ahmad Ulin Nur Hafsun, Kepala Kemenag Kota Surakarta, dalam kegiatan Sosialisasi Pesantren Ramah Anak bertema “Mewujudkan Pesantren yang Aman, Sehat, serta Bebas dari Kekerasan dan Diskriminasi” pada Rabu (22/10/25) Siang.

Kegiatan yang digelar Kemenag Kota Surakarta bekerja sama dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk serta Keluarga Berencana (DP3AP2KB) ini dihadiri para santri, perwakilan pondok pesantren, dan lembaga pendidikan di Surakarta.
Dalam kesempatan tersebut, Ahmad Ulin menjadi narasumber tunggal yang mengupas nilai-nilai pendidikan karakter melalui “Tepuk Sakinah” yang tengah populer di kalangan santri.

Pesantren Harus Jadi Ruang yang Aman dan Menyenangkan

Dalam paparannya, Ulin menegaskan bahwa pesantren ramah anak bukan hanya slogan, melainkan komitmen untuk menciptakan suasana belajar yang aman dan menyenangkan.

“Ramah itu dekat dengan senang. Kakak kelas harus menyayangi adik kelas, bukan memusuhi apalagi membuli,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya saling menghormati di antara sesama santri.

“Setiap pribadi memiliki keunggulan. Maka, kita harus saling sayang dan saling hormat. Itulah bagian dari ajaran Islam,” tambahnya.

Menurutnya, ketaatan terhadap peraturan, baik di pesantren maupun di masyarakat, merupakan bagian dari keimanan sekaligus bentuk cinta kepada Tanah Air.

“Sebagai santri dan warga negara, menaati aturan berarti ikut menjaga NKRI,” tegasnya.

Bangun Pesantren yang Sehat, Nyaman, dan Bebas Perundungan

Ulin juga mengingatkan pentingnya menjaga keamanan dan kenyamanan antar-santri.

“Salah satu tanda keimanan seseorang adalah mampu memberi rasa aman kepada orang lain,” jelasnya.

Ia menyoroti praktik perundungan (bullying) yang sering dianggap remeh.

“Kalau kita membuli, maka iman kita sedang berada pada titik terendah,” ujarnya.

Ulin juga berpesan agar santri saling menjaga, baik kesehatan badan maupun jiwa.

“Kalau ada teman yang sakit, bantu ke pos kesehatan. Jaga ucapan agar tak menyinggung hati teman,” katanya.

Selain itu, pesantren juga diimbau menjaga kebersihan lingkungan. Kegiatan seperti roan dan kerja bakti, kata Ulin, bukan hanya untuk menjaga kebersihan, tetapi juga melembutkan hati dan menumbuhkan tanggung jawab bersama.

Nilai-Nilai Rahmah, Amanah, Adil, dan Akhlak

Lebih lanjut, Ulin mengajak para santri untuk menghidupkan empat nilai utama pesantren ramah anak: rahmah (kasih sayang), amanah (tanggung jawab), adil (tidak diskriminatif), dan akhlak (keteladanan).

Sebagai dasar, ia mengutip hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan Imam Tirmidzi:

“Bukan bagian dari golongan kita orang yang tidak menyayangi yang muda dan tidak menghormati yang tua.”

Menurutnya, nilai-nilai itu perlu dibimbing oleh para kiai dan asatidz agar tumbuh dalam perilaku sehari-hari santri.

“Kalau santri bahagia dan merasa aman, maka semangat belajarnya akan tumbuh, dan pesantren akan semakin maju,” tandasnya.

Di akhir sesi, Ulin berpesan agar santri bijak menggunakan media sosial, menjaga lingkungan tetap bersih, serta menumbuhkan pertemanan tanpa membeda-bedakan suku, warna kulit, atau latar belakang ekonomi.

“Semoga pesantren kita menjadi tempat yang benar-benar ramah bagi anak, aman, dan penuh kasih sayang,” pungkasnya. (Abdus Sholeh)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TOP