Pengurus Bidang Dakwah dan Kajian Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Surakarta menyelenggarakan kajian ilmiah di Masjid Agung Surakarta pada Jum’at 24/10/2025 dengan tema yang menarik perhatian jamaah dan takmir masjid, kajian ini bertepatan dengan Kajian Kitab Fathul Wahhab Jumat pagi, Adapun masalah yang dibahas dan dijawab yaitu “Hukum Jual Beli di Dalam Masjid dalam Tinjauan Empat Mazhab.” Kajian tersebut menghadirkan narasumber utama KH. Ahmad Muhamad Mustain Nasoha, Pengurus Bidang Dakwah dan Kajian DMI Kota Surakarta.
Dalam pemaparannya, KH. Mustain, yang juga Ketua Fatwa MUI Surakarta ini menjelaskan secara sistematis perbedaan pandangan empat mazhab besar Islam Hanafiyyah, Malikiyyah, Syafi’iyyah, dan Hanabilah—mengenai hukum transaksi jual beli, sewa-menyewa, dan bentuk muamalah lainnya di dalam masjid. Menurut beliau, tema ini penting karena di era modern, masjid sering menjadi pusat kegiatan umat, termasuk yang bersifat sosial dan ekonomi, sehingga perlu batasan agar kesucian fungsi masjid tetap terjaga.
Dari perspektif Mazhab Hanafiyyah, transaksi jual beli dan muamalah serupa di dalam masjid dihukumi makruh, sebab dikhawatirkan mengurangi kehormatan dan kekhusyukan ibadah. Namun akad hibah tidak termasuk dalam kemakruhan, bahkan akad nikah disunnahkan dilakukan di dalam masjid karena mengandung keberkahan dan syiar Islam.
Mazhab Malikiyyah memandang bahwa jual beli di dalam masjid hukumnya makruh, tetapi bila melibatkan makelar atau perantara bisnis maka haram, sebab bertentangan dengan tujuan masjid sebagai tempat ibadah, bukan transaksi. Di sisi lain, akad hibah, sedekah, dan akad nikah dinilai boleh bahkan dianjurkan, karena termasuk amal kebaikan yang selaras dengan fungsi spiritual masjid.
Dalam pandangan Mazhab Hanabilah, hukum transaksi ekonomi seperti jual beli, sewa, atau bentuk muamalah lainnya di dalam masjid adalah haram secara tegas. Menurut ulama Hanabilah, masjid harus dijaga sepenuhnya dari urusan duniawi agar tetap menjadi ruang suci untuk ibadah, zikir, dan pembinaan keagamaan. Akad nikah termasuk pengecualian karena memiliki nilai ibadah dan bukan kegiatan bisnis.
Adapun Mazhab Syafi’iyyah, yang juga menjadi pegangan mayoritas umat Islam di Indonesia, menilai bahwa jual beli di dalam masjid haram apabila sampai merendahkan kehormatan masjid atau mengganggu jamaah yang sedang beribadah. Namun, bila tidak sampai pada tingkat tersebut, maka hukumnya makruh, selama tidak menimbulkan gangguan. Dalam Al-Buwaithi, Imam Asy-Syafi’i menegaskan kemakruhan jual beli di masjid, sedangkan dalam Asy-Syamil disebutkan dua pendapat: qaul ashoh menyebut makruh, sementara muqobil ashoh memperbolehkan jika transaksi itu berkaitan dengan kebutuhan pokok seperti makanan.
KH. Mustain menegaskan bahwa seluruh pandangan ulama tersebut berpijak pada prinsip yang sama: menjaga kesucian, kehormatan, dan fungsi utama masjid sebagai tempat ibadah dan pembinaan ruhani umat Islam. Menurut beliau, kegiatan seperti presentasi bisnis, promosi properti, atau penawaran paket umrah dan haji bukanlah kegiatan yang haram secara substansial, namun tidak layak dilakukan di area dalam masjid karena berpotensi menggeser orientasi spiritual jamaah.
Sebagai solusi, KH. Mustain Nasoha, Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin Surakarta ini menawarkan pendekatan yang lebih bijaksana dan proporsional. Ia menyarankan agar kegiatan bernuansa ekonomi, seperti promosi usaha syariah, program jual beli rumah, atau penawaran paket haji dan umrah, tetap dapat dilaksanakan, tetapi dialihkan ke area luar masjid—misalnya di serambi, halaman, atau aula serbaguna yang masih berada dalam kompleks masjid. Dengan demikian, kegiatan tersebut tetap memberi manfaat sosial dan ekonomi bagi jamaah tanpa mengurangi kesucian fungsi utama masjid sebagai tempat ibadah.
“Islam tidak melarang aktivitas ekonomi umat, tetapi menempatkannya pada tempat yang tepat. Masjid harus tetap menjadi pusat ibadah dan pencerahan ruhani, sedangkan kegiatan selainnya yang bermanfaat bisa berjalan berdampingan di ruang yang tidak mengurangi kehormatannya,” pungkas KH. Ahmad Muhamad Mustain Nasoha.
Referensinya bisa dilihat di Kitab Majmu’ Syarah Muhadzab juz 6 hal 529:
الحنفية قالوا: يكره إيقاع عقود المبادلة بالمسجد كالبيع والشراء والإجارة؛ أما عقد الهبة ونحوها، فإنه لا يكره، بل يستحب فيه عقد النكاح، ولا يكره للمعتكف إيقاع سائر العقود بالمسجد إذا كانت متعلقة به أو بأولاده بدون إحضار السلعة، أما عقود التجارة فإنها مكروهة له كغيره. المالكية قالوا: يكره البيع والشراء ونحوهما بالمسجد بشرط أن يكون في ذلك تقليب ونظر للمبيع وإلا فلا كراهة، وأما البيع في المسجد بالسمسرة فيحرم؛ أما الهبة ونحوها، وعقد النكاح فذلك جائز، بل عقد النكاح مندوب فيه، والمراد بعقد النكاح مجرد الإيجاب والقبول بدون ذكر شروط ليست من شروط صحته ولا كلام كثير. الحنابلة قالوا: يحرم البيع والشراء والإجارة في المسجد، وإن وقع فهو باطل، ويسن عند النكاح فيه. الشافعية قالوا: يحرم اتخاذ المسجد محلاً للبيع والشراء إذا أزرى بالمسجد – اضاع حرمته – فإن لم يزر كره إلا لحاجة ما لم يضيق على مصل فيحرمن أما عقد النكاح به فإنه يجوز للمعتكف
Mazhab Hanafiyyah berpendapat bahwa makruh melakukan akad-akad pertukaran di dalam masjid seperti jual beli dan sewa-menyewa. Namun, akad hibah (pemberian) dan sejenisnya tidak dimakruhkan. Bahkan, akad nikah disunnahkan dilakukan di dalam masjid. Adapun bagi orang yang sedang i‘tikaf, tidak dimakruhkan melakukan berbagai akad yang berkaitan dengan dirinya atau anak-anaknya, selama tidak membawa barang dagangan ke dalam masjid. Akan tetapi, akad-akad yang bersifat perdagangan tetap makruh baginya sebagaimana bagi orang lain.
Mazhab Malikiyyah berpendapat bahwa makruh melakukan jual beli dan semacamnya di dalam masjid apabila disertai dengan aktivitas memperlihatkan dan meneliti barang dagangan. Namun, jika tidak ada kegiatan semacam itu, maka tidak makruh. Adapun jual beli yang dilakukan dengan sistem makelar (perantara/komisi) di dalam masjid diharamkan. Sedangkan akad hibah, sedekah, dan akad nikah diperbolehkan, bahkan akad nikah dianjurkan (mandub) dilakukan di masjid. Yang dimaksud dengan akad nikah di sini adalah ijab dan qabul secara sederhana, tanpa pembicaraan panjang atau penyebutan syarat-syarat yang bukan bagian dari syarat sahnya nikah.
Mazhab Hanabilah berpendapat bahwa jual beli, sewa, dan transaksi sejenisnya di dalam masjid adalah haram, dan akadnya tidak sah (batal) jika dilakukan di sana. Namun demikian, akad nikah disunnahkan dilaksanakan di masjid.
Mazhab Syafi‘iyyah berpendapat bahwa haram menjadikan masjid sebagai tempat jual beli apabila tindakan itu merendahkan kehormatan masjid. Jika tidak sampai merendahkan kehormatannya, maka hukumnya makruh, kecuali bila dilakukan karena ada kebutuhan mendesak, selama tidak mengganggu jamaah yang sedang beribadah—karena bila sampai mengganggu, maka hukumnya haram. Adapun akad nikah di dalam masjid diperbolehkan, terutama bagi orang yang sedang i‘tikaf, karena tidak termasuk dalam larangan aktivitas duniawi yang dikecam di masjid.
وقال في البويطى وأكره البيع والشراء في المسجد قال صاحب الشامل فالمسألة علي قولين (أصحهما) يكره البيع والشراء في المسجد ) والثانى لا يكره قال فإن كان محتاجا الي شراء قوته وما لا بد له منه لم يكره
Imam Asy-Syafi‘i berkata dalam kitab Al-Buwaiti: “Aku memakruhkan jual beli di dalam masjid.” Kemudian penulis Asy-Syamil menjelaskan bahwa dalam masalah ini terdapat dua pendapat ulama: Pendapat yang lebih kuat (al-ashah): jual beli di dalam masjid hukumnya makruh. Pendapat yang kedua: jual beli di dalam masjid tidak makruh. Selanjutnya beliau menambahkan, “Apabila seseorang membutuhkan untuk membeli makanan pokok atau barang keperluan yang sangat mendesak, maka perbuatan tersebut tidak dimakruhkan.
“Dengan demikian, menurut ulama Syafi‘iyyah, larangan jual beli di masjid tidak bersifat mutlak, tetapi bergantung pada niat, kebutuhan, dan adab terhadap kehormatan masjid. Jika dilakukan karena kebutuhan pokok tanpa menjadikan masjid sebagai tempat transaksi rutin atau komersialisasi, maka tidak termasuk dalam larangan yang dimakruhkan. [Ahmad Khoiruddin]