Haul Habib Ali Al Habsyi yang ke-113, telah usai. Haul yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Surakarta dan panitia Haul Solo itu, dilaksanakan di Masjid Riyad pada Ahad 20–24 Oktober 2024 kemarin. Rangkaian acara meliputi: Rauhah 20–22 Oktober, haul 23 Oktober, dan Maulid Nabi 24 Oktober. Peserta yang hadir diperkirakan mencapai angka puluhan ribu lebih jamaah, dari dalam dan luar negeri.
Lalu, apa yang dicari oleh para peziarah yang datang dari jauh itu ?. Berikut hasil wawancara dengan peserta haul yang sedang menunggu perjalanan kereta api, di Masjid Baitur Rahman, Jebres pada Kamis (24/10) kemarin.
Zainul Arifin (17), pelajar yang berasal dari desa Trusmiland, Plered, Cirebon, mengaku berangkat ke Solo menggunakan kereta api bersama dengan tujuh orang kawannya.
“Saya kesini bersama kawan-kawan Saya. Sampai di stasiun Jebres pada Rabu (23/10) kemarin”, ujarnya.
Untuk bisa mengikuti acara haul tersebut,katanya, harus menabung terlebih dahulu. Meskipun agak susah, karena masih sering jajan, akhirnya tiket kereta api seharga Rp.320.000,- pulang pergi (PP) per orang itu bisa didapat. Maklum tidak mau merepotkan kedua orang tuanya.
“Saya tidak minta uang orang tua Saya. Untuk memperoleh tiket itu, duitnya dari nabung. Memang agak susah, ya, karena masih pelajar dan masih sering jajan”, ujar siswa SMK Plered jurusan mesin otomotif itu sambil memegang rokoknya.
Ia mengaku, tujuan mengikuti acara tersebut tidak lain untuk mengharap barokah.
Setelah sampai di stasiun Jebres, Ia bersama rekannya berjalan kaki menuju tempat haul. “Jaraknya sekitar 2,5 Km. Ya terasa capek”, ujarnya saat diwawancara.
Tapi, rasa capek tersebut sirna, setelah mereka bersama kawan-kawannya memperoleh layanan yang baik berupa makanan dan minuman yang disediakan panitia.
“Soal makan, alhamdulillah tidak kurang. Dapat banyak dan Perut terisi terus”, katanya sambil tertawa.
Mengingat kedatangannya pada hari ke-empat, maka Zainul bersama kawan seusianya hanya mengikuti acara haul dan pembacaan maulid Simtut Duror. Selama berada di Solo, Ia bersama kawannya mengaku numpang tidur di Masjid Muslimin, Kratonan.
Berbeda dengan Muhammad Yasmur (25), lajang dari Wlingi, Blitar ini bersama rombongannya tiba di Solo pada Selasa (22/10) sehingga semua kegiatan; Rauhah, haul hingga pembacaan Simtut Duror dapat mereka ikuti.
Yasmur mengaku, tujuan mengikuti acara haul tersebut tidak lain untuk mendapat berkah para habaib dan ulama.
“Ya, tujuan Saya mengikuti acara haul ini, biar mendapat keberkahan dari para habaib dan para ulama”, ujarnya saat itu.
Dalam perjalanannya Ia mengaku memperoleh kemudahan. Bahkan setelah sampai di tempat acara, makan dan minumpun mudah.
“Makan dan minumannya lancar dan perjalanannya mudah. Saya beserta rombongan kami tidur di lokasi majelis”, terangnya.
Usai mengikuti acara haul, lajang yang mengaku membeli tiket kereta Blitar-Solo seharga Rp.290.000 (PP) itu merasa dirinya bahagia.
“Rasanya bahagia, bisa mengingat perjuangan para habaib dalam mensyiarkan agama islam sampai sekarang. Nanti, kedepannya kita bisa mendoakan orang tua jika sudah meninggal”, ungkapnya saat ditanya kesannya usai mengikuti acara tersebut.
Lain lagi dengan yang dialami Nuril Manazil. Meskipun perempuan asal desa Sarang Kulon, Kalipucung, Blitar ini satu rombongan dengan Yasmur dan kawan-kawannya, namun harga tiket kereta yang didapat agak mahal sedikit,Rp.320.000,- untuk PP.
“Karena pesan tiketnya harinya sudah mepet”, ujarnya saat ditanya mengapa harga tiketnya bisa berbeda.
Nuril yang baru pertama kali mengikuti haul Solo ini mengaku sebenarnya sudah lama mengetahui acara tersebut. Akan tetapi, baru kali ini keinginan tersebut dapat terwujud.
“Sebenarnya sudah sejak lama tahu. Tapi, baru kali ini bisa hadir dan ini yang pertama kali”, terangnya usai rebahan diemper masjid Baitur Rahman.
Selama mengikuti acara, Ia hanya mempermasalahkan kamar mandi yang antri. Masalah makan sehari-hari, Ia beserta rombongannya mengaku memperoleh makanan dengan mudah, karena tempat istirahatnya berdekatan dengan posko Banser.
“Saya istirahatnya dibelakang pos banser. Jadi setiap beliau makan dikasih. Rencana mau tidur di masjid, tapi setelah kesana penuh”, bebernya.
Namun terkait dengan antrian di kamar mandi, wanita yang memiliki keinginan untuk terus bersyukur ini mengaku wajar, karena orangnya sangat banyak.
Sementara itu, Ahmad Sofwan Hadi (19) jejaka asal Tanjung Perak,Surabaya yang sedang nyantri di Pondok Pesantren Darut Tauhid Kedusari, Purworejo, setelah memperoleh restu gurunya, KH. Thoifur Mawardi, pada Ahad (20/10) sudah menginjakkan kakinya di Kota Solo.
Datang sendirian dengan menaiki kereta KRL yang tiketnya berharga Rp.40.000,- Purworejo-Solo (PP), Sofwan mengaku tidak ada kesulitan selama dalam perjalanan. Sesampainya di stasiun Jebres, langsung berjalan kaki menuju tempat acara.
“Tujuannya kesini mau mengharap berkah dari Habib Ali al Habsyi, yang dimakamkan di Hadramaut, Yaman”, katanya.
Seperti pendatang lainnya, ia termasuk beruntung bisa menikmati istirahat langsung di Masjid Riyad.
“Alhamdulillah semuanya lancar.Tidurnya di Masjid Riyad.Makan dan minumnya sudah disediakan sama panitia. Saya dapat nasi kebuli dua kali”, pungkas santri yang datang sejak acara haul digelar.
Sebagaimana disampaikan Ustaz Nur Chotib, Solo, selama pelaksanaan acara haul, lebih dari 600 kambing disembelih untuk menjamu para tamu.
“Dalam memperingati haul ke 113 Habib Ali Al Habsyi ini panitia menyembelih 600-an kambing lebih untuk menjamu para tamu dari kaum muslimin dan muslimat”, ungkapnya saat dikonfirmasi pada Jum’at (25/10) siang. (Sol)