Pagi yang cerah. Matahari sudah tinggi. Rabu 24/09/2025, sehari setelah pengukuhan Rumah Ibadah Ramah Anak oleh Kepala Kemenag Kota Surakarta, termasuk di dalamnya 16 masjid yang tersebar di 5 kecamatan di Kota Surakarta, penulis menyempatkan untuk wawancara dengan Ustadz Ahmadi, marbot Masjid Darmowiyoto Nusukan Banjarsari, sekaligus berperan paling berperan mengapa masjid Darmowiyoto tersebut menjadi masjid ramah anak.
Nama lengkapnya Ahmad Ariyadi, A.Md. Asli Solo. Tepatnya Ngesengan Timuran Surakarta. Sejak muda sudah dekat dengan masjid dan menjadi pengurus Remaja Masjid Nur Kholishoh Timuran Surakarta, disingkat Ramantara. Orangnya humoris dan ada darah seni mengalir pada diri beliau. Kini bersama istri, beliau menjadi marbot masjid Darmowiyoto Nusukan Banjarsari. Sebuah masjid yang tidak jauh dari perempatan Ngemplak. Tidak jauh dari Masjid Raya Syekh Zayed.

Begitu dinobatkan sebagai masjid ramah anak, pengurus masjid Darmowiyoto sangat senang, terkejut, tidak menyangka. Juga berterima kasih kepada Kantor Kemenag Kota Surakarta dan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Pemerintah Kota Surakarta, yang telah memasukkan masjid Darmowiyoto sebagai salah satu masjid ramah anak.
Saat saya bertanya apa yang istimewa dari Masjid Darmowiyoto, kok sampai masuk ke dalam masjid ramah anak, beliau menjelaskan bahwa masjid Darmowiyoto ini masjid dengan halaman yang luas, sehingga anak-anak bisa sepak bola, bulu tangkis dan bermain di taman TK Darmowiyoto yang berada dalam satu halaman dengan masjid. Di teras masjid anak-anak juga karambol, sekak. Semua itu kami bebaskan.

Selain itu masjid ini terletak di tengah perkampungan yang padat dan sebagian besar rumah kecil-kecil. Pulang sekolah anak-anak lebih senang nimbrung di masjid daripada di rumah mereka. Mereka lebih nyaman glimpang istirahat di teras masjid sambil ngobrol bersama teman-teman. Tidak heran jika jamaah masjid ini 60 persen adalah anak-anak.
Beliau melanjutkan, “…anak-anak di sini tidak pernah kami marahi. Namanya juga anak-anak. Mereka ramai itu biasa. Saat sholat mereka lebih senang masuk masjid begitu iqomat sudah selesai. Mereka memenuhi shof-shof belakang. Rame… jelas, tapi biasanya setelah kelas 5 atau 6 SD mereka sudah mereda. Tidak pernah kami marahi. Itu menjadi sebab anak-anak betah di masjid.”

Dengan penuh semangat beliau juga bercerita tentang pencapaian anak-anak masjid Darmowiyoto, “Tak hanya TPQ, Senam Gembira dan Team Lomba, di sini ada grup drumband yang sudah berusia 10 tahun dan grup hadrah beraliran jazz berusia 8 tahun. Anak-anak juga punya tim sepakbola. Tiap Ahad pertama, grup hadrah tampil di Car Free Day Slamet Riyadi. Di lain kesempatan juga pernah tampil di beberapa event di Solo juga di Tawangmangu, Klaten, Purwodadi, Banyumas. Mereka juga sering diundang untuk peresmian toko dan syukuran.”

Ustadz Ahmadi berharap, “…ke depan banyak masjid yang berbenah menjadi masjid ramah anak. Seharusnya sering ada pertemuan antar pengurus masjid agar sesama masjid bisa berbagi pengalaman dalam pengelolaan masjid menuju masjid yang ramah anak.” [Admin]
