Terobosan menarik, terkait model wakaf yang telah disesuaikan dengan kondisi saat ini, kembali dilontarkan Hidayat Maskur, selaku Kepala Kemenag Kota Surakarta. Sulitnya tanah di perkotaan akibat menyempitnya lahan menjadikan wakaf uang cash menjadi pilihan.
“Kita mulai dari wakaf perorangan saja. Mau 10.000,-, Rp50.000 boleh. Mau 100.000 boleh dan tidak terbatas. Apabila ini terus berkembang menjadi banyak, maka masjid secara otomatis tidak membutuhkan bantuan dari siapapun.”
Demikian disampaikan Hidayat Maskur, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Surakarta dalam acara pelantikan dan pengukuhan pengurus Badan Kesejahteraan Masjid (BKM) tingkat Kecamatan Jebres, di masjid Baiturahman, Ledoksari, Jebres pada Selasa (21/11) kemarin.
“Kalau kita bisa mengembangkan dana-dana wakaf itu, pasti hasilnya akan menjadi luar biasa,”imbuhnya
Dia mencontohkan hampir semua perguruan tinggi ternama di dunia dananya bersumber dari dana abadi.
“Jadi kalau setiap kali mereka menerima dana abadi, maka dana tersebut tidak boleh dirubah, tidak boleh dikurangi, tidak boleh digunakan untuk apapun kecuali untuk membiayai universitas. Makanya, hampir semuanya maju,” terangnya.
Konsep ini, menurut Hidayat, ternyata jauh sebelumnya telah dimiliki oleh umat islam, yakni wakaf. Akan tetapi istilah wakaf ini sudah diadopsi oleh orang-orang barat dengan istilah dana abadi.
“Islam lahir ini telah memiliki konsep yang namanya wakaf abadi. Semestinya adalah konsep umat Islam. Tapi, ternyata banyak dipakai oleh orang-orang barat untuk kemajuan pendidikan. Meskipun kita ketinggalan, kalau saat ini kita mulai, maka kita akan memiliki dana abadi yang sangat luar biasa,” ungkapnya. (Abdus Sholeh)